[Berbagi Karya]: Puisi "Negeri Ini Tak Kekurangan Api, Hanya Kekurangan Hati"
Negeri Ini Tak Kekurangan Api, Hanya Kekurangan Hati
Karya : Rossya Dwi Panggih
Negeri ini tak kekurangan api
Hutan terbakar, langit meredup, dan harapan hanyut terbawa angin, bersama abu yang entah
akan terbang ke mana
Pohon-pohon yang telah hangus, kini masih juga kalian jarah
Makhluk-makhluk di dalamnya tak mampu bersuara, hanya diam menyaksikan ulah manusia
Dalam hati mereka, di mana lagi aku akan bertahan hidup?
Habitat yang telah dilahap si jago merah, masih juga kalian rampas kembali?
Untuk apa?
Untuk siapa?
Di bawah kuasa api yang melahap segalanya, satu demi satu dekapan terpaksa terlepas
Sayup-sayup terdengar suara rintihan lara
Ibu, tolong...
Ayah, tolong...
Aku tak bisa bernapas dengan baik
Mengapa di sini sangat berkabut?
Aku tak dapat jelas melihat indahnya panorama di pulau ini
Di antara asap hitam yang menutupi langit cerah, seorang ibu memegang erat sisa kehidupan
Seorang anak yang tak tahu lagi bagaimana cara ia bertahan hidup
Dan sosok ayah memanggul kecemasan, tak ingin keluarga kecilnya tahu bagaimana sakitnya
ia bekerja untuk mencari makan esok
Di negeri yang sama, dan di tanah yang sama
Ada begitu banyak wajah yang basah oleh air mata, tangan-tangan terangkat ke langit,
memohon pertolongan kepada Yang Mahakuasa
Doa yang dipanjatkan di antara kobaran api dan ketidakpastian
Namun, jauh dari tanah yang terbakar
Lampu-lampu mewah masih menyala, mobil-mobil mewah masih melaju, sementara rakyat
tertatih-tatih berjalan di antara kabut-kabut kejam
Hidangan tersaji tanpa jeda, disaat banyak manusia menelan pahitnya asap hitam
Raga mereka dihiasi kilau emas dan berlian
Dibalut busana yang begitu mahal, hingga seribu tahun rakyat menabung pun tak akan
sanggup membelinya
Kulihat mereka menjejak negeri seberang,
bertopi mewah, berkacamata,
Sementara denting alat makan bersahutan
Di meja yang tak pernah mengenal kekurangan.
Mereka menikmati hidangan negeri orang,
Sementara di tanah sendiri,
Ada rakyat yang bahkan tak tahu
Dari mana makanan esok akan datang.
Mereka bercakap tentang negeri, tetapi apakah mereka mendengarkan riuh tangisnya?
Mereka berbicara atas nama rakyat, tetapi ketika rakyat kehilangan segalanya, dimana kah
mereka yang dahulu berjanji akan menjadi tameng?
Ketika air mata tak sampai ke istana
Berapa banyak air mata yang berjatuhan
Berapa banyak raga menjerit dalam bencana yang tak diinginkan
Apa arti tingginya kekuasaan jika kalian tak dapat merendahkan hati untuk mendengarkan
sejenak jeritan kehidupan?
Negeri ini tak kekurangan api, tak pula kekurangan orang yang berjanji
Apakah nurani kalian ikut terbakar bersama tanah kami di sini?
Negeri ini hanya sedang bertanya, masih adakah hati di dada mereka yang mengaku
mengabdi untuk negeri ini?
Komentar
Posting Komentar