[Mimbar Akademik]: Fenomena Perubahan Pengucapan Bahasa Indonesia pada Carmen dalam Perspektif Sosiolinguistik
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga berkaitan erat dengan lingkungan sosial tempat seseorang berinteraksi. Ketika seseorang menggunakan lebih dari satu bahasa dalam kehidupan sehari-hari, bahasa-bahasa tersebut dapat saling memengaruhi. Fenomena ini menjadi bagian dari kajian sosiolinguistik, khususnya dalam pembahasan bilingualisme dan kontak bahasa.
Salah satu fenomena yang menarik perhatian masyarakat adalah perubahan cara pengucapan bahasa Indonesia pada Carmen, salah satu anggota grup K-pop Hearts2Hearts yang berasal dari Indonesia. Setelah berkarier dan banyak beraktivitas di Korea Selatan, Carmen menggunakan bahasa Korea secara intensif dalam lingkungan pekerjaan maupun kehidupan sehari-harinya. Kondisi tersebut membuat Carmen berada dalam lingkungan bilingual, yaitu lingkungan yang melibatkan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Korea.
Penggunaan bahasa Korea secara intensif kemudian menjadi perhatian ketika cara Carmen mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia terdengar berbeda. Perubahan tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian netizen menganggap Carmen semakin tidak bisa berbahasa Indonesia atau sengaja mengubah cara bicaranya. Namun, jika dilihat dari sudut pandang sosiolinguistik, perubahan cara berbahasa dapat berkaitan dengan lingkungan bahasa dan kebiasaan penggunaan bahasa yang dimiliki seseorang.
Dalam situasi kontak bahasa, penggunaan dua bahasa secara terus-menerus memungkinkan terjadinya pengaruh antara bahasa pertama dan bahasa kedua. Kartushina et al. (2016) menjelaskan bahwa pengaruh antara L1 dan L2 dapat berlangsung secara dua arah, termasuk pengaruh bahasa kedua terhadap produksi bahasa pertama. Salah satu bentuk perubahan pada aspek pengucapan tersebut dapat dikaitkan dengan konsep phonetic drift, yaitu pergeseran karakteristik pengucapan bahasa pertama yang dapat muncul akibat pengalaman menggunakan bahasa kedua.
Fenomena Carmen dengan demikian menarik untuk dikaji karena tidak hanya berkaitan dengan perubahan pengucapan, tetapi juga menunjukkan hubungan antara bahasa, lingkungan sosial, dan penggunaan bahasa pada penutur bilingual. Kajian ini penting agar perubahan cara bicara tidak langsung dipahami sebagai ketidakmampuan berbahasa Indonesia. Sebaliknya, fenomena tersebut dapat dilihat sebagai salah satu bentuk dinamika bahasa yang muncul ketika seseorang berada dalam lingkungan yang menggunakan bahasa berbeda secara intensif.
Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini membahas perubahan pengucapan bahasa Indonesia pada Carmen dalam perspektif sosiolinguistik dengan menggunakan konsep phonetic drift sebagai pendukung untuk memahami kemungkinan pengaruh bahasa Korea terhadap bahasa Indonesia yang digunakannya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sosiolinguistik dan Bilingualisme
Sosiolinguistik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat. Penggunaan bahasa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, seperti lingkungan, situasi komunikasi, kelompok masyarakat, serta latar belakang penuturnya. Dengan demikian, cara seseorang menggunakan bahasa dapat mengalami perbedaan ketika berada dalam lingkungan sosial yang berbeda.
Salah satu fenomena yang dikaji dalam sosiolinguistik adalah bilingualisme, yaitu kemampuan atau kebiasaan seseorang dalam menggunakan dua bahasa. Penutur bilingual dapat menggunakan bahasa yang berbeda sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan komunikasinya. Dalam proses tersebut, kedua bahasa yang digunakan tidak selalu berdiri sendiri, tetapi dapat mengalami interaksi dan saling memengaruhi.
Dalam kasus Carmen, bahasa Indonesia dapat dipandang sebagai bahasa pertama, sedangkan bahasa Korea menjadi bahasa yang banyak digunakan dalam lingkungan kehidupan dan pekerjaannya di Korea Selatan. Intensitas penggunaan kedua bahasa tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat diperhatikan dalam mengkaji perubahan cara pengucapannya.
2.2 Kontak Bahasa
Kontak bahasa terjadi ketika dua bahasa atau lebih digunakan dalam lingkungan atau interaksi yang sama sehingga memungkinkan terjadinya pengaruh satu bahasa terhadap bahasa lainnya. Kontak bahasa dapat muncul karena perpindahan tempat, pendidikan, pekerjaan, migrasi, maupun interaksi dengan masyarakat yang menggunakan bahasa berbeda.
Dalam situasi bilingual, kontak bahasa dapat menyebabkan munculnya berbagai bentuk pengaruh, baik dalam kosakata, tata bahasa, maupun pengucapan. Pengaruh tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa penutur kehilangan kemampuan dalam salah satu bahasanya. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi bagian dari dinamika penggunaan bahasa akibat interaksi antara dua sistem bahasa.
Carmen yang beraktivitas di Korea Selatan berada dalam lingkungan yang memungkinkan terjadinya kontak antara bahasa Indonesia dan bahasa Korea. Penggunaan bahasa Korea secara intensif dalam lingkungan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika membahas perubahan pengucapan bahasa Indonesianya.
2.3 Phonetic Drift
Phonetic drift merupakan perubahan atau pergeseran karakteristik pengucapan bahasa pertama yang dapat terjadi akibat pengalaman menggunakan bahasa kedua. Konsep ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa kedua dapat memberikan pengaruh terhadap cara seseorang memproduksi bunyi dalam bahasa pertamanya.
Chang (2012) menunjukkan bahwa pengalaman menggunakan bahasa kedua dapat memengaruhi produksi bunyi dalam bahasa pertama. Sementara itu, Kartushina et al. (2016) menjelaskan bahwa pengaruh antara bahasa pertama dan bahasa kedua dapat berlangsung secara dua arah. Artinya, pengaruh bahasa tidak hanya terjadi dari bahasa pertama terhadap bahasa kedua, tetapi juga sebaliknya.
Dalam kajian ini, phonetic drift digunakan sebagai konsep pendukung untuk menjelaskan kemungkinan perubahan pengucapan bahasa Indonesia pada Carmen setelah banyak menggunakan bahasa Korea. Namun, konsep tersebut tidak digunakan untuk menyatakan bahwa Carmen pasti mengalami phonetic drift, karena diperlukan data kebahasaan yang lebih lengkap untuk membuktikannya.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Carmen sebagai Penutur Bilingual
Carmen merupakan penutur yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Korea dalam lingkungan yang berbeda. Sebagai orang Indonesia yang berkarier di Korea Selatan, Carmen lebih sering berinteraksi menggunakan bahasa Korea dalam kegiatan sehari-harinya. Kondisi tersebut menunjukkan adanya situasi bilingual yang memungkinkan terjadinya kontak antara bahasa Indonesia dan bahasa Korea.
Intensitas penggunaan bahasa Korea dapat memengaruhi kebiasaan berbahasa Carmen, termasuk ketika kembali menggunakan bahasa Indonesia. Perubahan tersebut merupakan hal yang memungkinkan terjadi pada penutur bilingual karena bahasa yang digunakan dalam lingkungan sosial dapat saling berinteraksi.
3.2 Perubahan Pengucapan dan Respons Masyarakat
Perubahan pengucapan bahasa Indonesia pada Carmen menjadi perhatian setelah masyarakat mendengar beberapa kata yang dianggap terdengar berbeda dari pengucapan bahasa Indonesia pada umumnya. Fenomena tersebut kemudian menimbulkan berbagai respons di media sosial. Sebagian masyarakat menganggap perubahan tersebut sebagai tanda bahwa Carmen semakin tidak mampu berbahasa Indonesia.
Jika dilihat dari perspektif sosiolinguistik, anggapan tersebut tidak dapat langsung dibenarkan. Cara seseorang menggunakan bahasa dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan kebiasaan berkomunikasi. Carmen yang berada dalam lingkungan berbahasa Korea secara intensif memiliki kemungkinan mengalami pengaruh bahasa Korea ketika menggunakan bahasa Indonesia.
3.3 Perubahan Pengucapan Carmen dalam Perspektif Phonetic Drift
Perubahan pengucapan Carmen dapat dikaitkan dengan konsep phonetic drift, yaitu kemungkinan adanya pergeseran pengucapan bahasa pertama akibat penggunaan bahasa kedua. Dalam kasus ini, bahasa Korea sebagai bahasa yang banyak digunakan Carmen dapat memberikan pengaruh terhadap produksi bunyi dalam bahasa Indonesianya.
Hal tersebut sejalan dengan Chang (2012) yang menunjukkan bahwa penggunaan bahasa kedua dapat memengaruhi produksi bunyi bahasa pertama. Kartushina et al. (2016) juga menjelaskan bahwa pengaruh antara bahasa pertama dan bahasa kedua dapat berlangsung secara dua arah.
Dengan demikian, perubahan pengucapan Carmen lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan akibat interaksi bahasa dalam situasi bilingual, bukan semata-mata sebagai tanda bahwa Carmen “tidak bisa bahasa Indonesia”. Namun, karena kajian ini hanya berdasarkan fenomena yang terlihat dalam media sosial, diperlukan data yang lebih lengkap untuk memastikan bentuk dan penyebab perubahan pengucapan tersebut.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Fenomena perubahan pengucapan bahasa Indonesia pada Carmen dapat dipahami melalui perspektif sosiolinguistik, khususnya konsep bilingualisme dan kontak bahasa. Penggunaan bahasa Korea secara intensif dalam lingkungan kehidupan dan pekerjaannya di Korea Selatan memungkinkan terjadinya interaksi antara bahasa Korea dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama.
Perubahan pengucapan tersebut dapat dikaitkan dengan konsep phonetic drift, yaitu kemungkinan adanya pengaruh bahasa kedua terhadap produksi bunyi bahasa pertama. Oleh karena itu, perubahan cara pengucapan Carmen tidak dapat langsung dianggap sebagai tanda bahwa dirinya semakin tidak mampu berbahasa Indonesia. Fenomena tersebut dapat menjadi bagian dari dinamika bahasa yang terjadi pada penutur bilingual.
Meskipun demikian, kajian ini belum dapat memastikan bahwa perubahan pengucapan Carmen sepenuhnya disebabkan oleh phonetic drift. Diperlukan data kebahasaan yang lebih lengkap, seperti perbandingan pengucapan sebelum dan sesudah menggunakan bahasa Korea secara intensif, untuk membuktikan pengaruh tersebut secara lebih mendalam.
4.2 Saran
Masyarakat sebaiknya tidak langsung memberikan penilaian negatif terhadap perubahan cara bicara penutur bilingual. Penggunaan bahasa yang berbeda secara intensif dapat memengaruhi kebiasaan berbahasa seseorang. Selain itu, penelitian lebih lanjut mengenai fenomena Carmen dapat dilakukan dengan menganalisis data pengucapan secara lebih sistematis agar pengaruh bahasa Korea terhadap pengucapan bahasa Indonesia dapat diketahui dengan lebih jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Chang, C. B. (2012). Rapid and multifaceted effects of second-language learning on first-language speech production. Journal of Phonetics, 40(2), 249–268. https://doi.org/10.1016/j.wocn.2011.10.007
Hambly, H., Wren, Y., McLeod, S., & Roulstone, S. (2013). The influence of bilingualism on speech production: A systematic review. International Journal of Language & Communication Disorders, 48(1), 1–24. https://doi.org/10.1111/j.1460-6984.2012.00178.x
Kartushina, N., Martin, C. D., Black, A. K., & Marian, V. (2016). How and when does the second language influence the production of native speech sounds: A literature review. Language Learning, 66(S2), 155–186. https://doi.org/10.1111/lang.12187
Schmid, M. S. (2013). First language attrition. WIREs Cognitive Science, 4(2), 117–123. https://doi.org/10.1002/wcs.1218
Sitaresmi, N., Naufalia, A., Sulistyaningsih, L. S., & Cahyani, I. (2024). Kesalahan perubahan bunyi pada pelafalan pembelajar BIPA dasar asal Korea Selatan. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 10(1). https://doi.org/10.30605/onoma.v10i1.3003
Komentar
Posting Komentar