[Berbagi Karya]: Cerpen " Senja, Cinta Pertamaku"

 Senja, Cinta Pertamaku

Oleh: Sera Sri Wulan Pertiwi


Namaku Bara. Aku bukan tipe laki-laki yang pandai merangkai kata manis atau

banyak bicara. Bagiku, dunia sering kali terlalu bising, dan aku lebih nyaman

menikmati keheningan di sudut ruangan. Namun, jika ada satu hal yang bisa

membuatku ingin bercerita panjang lebar, itu adalah tentang seorang gadis yang

pernah mengajari hatiku cara berdetak dengan hangat.

Sebab, ada jenis hangat yang tidak pernah benar-benar padam, bahkan ketika

musim telah berganti belasan kali. Bagiku, hangat itu bernama Senja, gadis

yang hadir di masa mudaku seperti percikan api kecil di tengah malam yang

dingin.

Senja adalah perempuan yang matanya selalu berbinar tiap kali menceritakan

hal-hal kecil. Kehadirannya seperti hembusan angin tenang yang selalu berhasil

meredakan seluruh riuh di dalam kepalaku. Di masa-masa sekolah dulu,

memperhatikan caranya tertawa di sudut perpustakaan sudah cukup untuk

membuat hariku terasa utuh.

Namun, alur kehidupan perlahan membawa kami ke persimpangan yang

berbeda. Jarak dan masa depan melipat kebersamaan kami rapi-rapi. Meskipun

begitu, tidak pernah ada satu hari pun di mana bayang Senja benar-benar

memudar dari ingatanku.

Sore ini, hujan gerimis mengguyur kota. Aku melangkah menuju teras sebuah

kedai kecil, lalu menghentikan langkah ketika melihat sosok yang begitu

kukenal sedang duduk sendirian, menatap rintik air dengan tatapan teduhnya

yang khas.

Itu Senja.

Aku berjalan mendekat, melipat payung transparan di tanganku, lalu menyapa

pelan, "Masih suka melamun kalau hujan?"

Ia menengadah. Matanya berbinar terkejut sebelum akhirnya sebuah senyum

manis, senyum yang selalu menjadi favoritku sejak dulu terukir halus di

bibirnya.


Aku duduk di sisinya. Kami mulai mengobrol ringan, menepis canggung yang

sempat mengendap. Suaranya masih sama, tenang dan menyejukkan. Di tengah

perbincangan kami, pandanganku teralih pada sebuah bangunan megah di

seberang jalan. Dinding bata merahnya yang kokoh, jendela-jendela kayu

melengkung yang tinggi, dan arsitektur vintage nya berdiri anggun di balik tirai

hujan.

"Kamu lihat bangunan tua di seberang sana?" tanyaku lembut, mengarahkan

pandangannya ke luar teras.

Senja ikut menatap ke arah yang kutunjuk, mengangguk pelan. "Indah banget

ya, Bara. Kelihatan seperti menyimpan banyak cerita."

"Itu museum," balasku seraya tersenyum. "Isinya arsip-arsip foto kota masa lalu

dan barang-barang antik. Kamu... mau melihatnya bersama?"

Senja tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, sebuah senyum tipis yang

menyimpan keraguan halus.

Tanpa berpikir panjang, aku berdiri dari kursiku. Aku mengulurkan tangan

kanan ke arahnya, siap menuntun langkahnya menyeberangi jalan. "Yuk?"

Namun, Senja tidak meraih tanganku. Ia perlahan menundukkan kepala,

mengalihkan pandangannya ke bawah, menatap jemarinya sendiri yang saling

bertaut di atas pangkuan.

Saat itulah pandanganku mengikuti arah tatapannya.

Dada serasa berdesir pelan. Dua roda besi mengilat di sisi tubuhnya, menyatu

dengan dudukan kain hitam yang disangga penopang baja. Senja duduk di atas

kursi roda.

Ada jeda beberapa detik di mana dunia seolah hening. Bukan karena terkejut

hingga hilang kata, melainkan karena rasa sadar yang menghantam dada,

betapa banyak takdir yang telah ia lewati sendirian tanpa kehadiranku di

sisinya.

Senja perlahan menengadah kembali, menatap mataku dengan raut agak serba

salah, seolah takut menemukan kekecewaan di wajahku.

Napas kuhembuskan perlahan. Tatapanku tak sedikit pun memudar dari binar

matanya. Uluran tanganku yang tadinya menggantung di udara, sama sekali

tidak kutarik kembali. Justru, aku menurunkan tanganku sedikit lebih rendah,

menyesuaikan posisinya tepat di hadapannya, lalu menyunggingkan senyum

paling tulus yang kupunya.


"Payungku cukup lebar untuk kita berdua," kataku pelan. "Dan jalan menuju

museum itu punya bidang miring yang landai di samping tangganya. Jadi... mau

keliling museum bersamaku, Senja?"

Mata Senja berkaca-kaca seketika. Ragu yang tadi sempat hinggap di wajahnya

perlahan lebur. "Mau, Bara," bisiknya halus.

Sore itu, rintik gerimis membasahi aspal tua saat roda-roda besi itu berputar

perlahan. Dengan satu tangan menggenggam gagang payung transparan dan

tangan lainnya menuntun pegangan kursi roda Senja, kami bergerak pelan

menyeberangi jalan.

Aroma tanah basah beradu dengan dingin udara sore, tetapi di bawah lindungan

payung yang sama, tak ada dari kami yang merasa kedinginan.

Begitu sampai di pelataran museum, aku menuntun Senja melewati jalur bidang

miring di samping tangga batu. Pintunya yang terbuat dari kayu jati tebal

terbuka sedikit, menyambut kami dengan kehangatan ruangan berdinding bata

merah. Suasana di dalam begitu tenang. Suara rintik gerimis di luar berubah

menjadi bisikan samar yang menentramkan.


"Bara... lihat deh," bisik Senja pelan, matanya berbinar menatap deretan foto-

foto hitam-putih yang terpajang rapi di sepanjang koridor.


Aku melangkah pelan di sampingnya, menyesuaikan jalanku dengan putaran

rodanya. Kami berhenti di depan sebuah foto besar yang menampilkan sudut

kota bertahun-tahun lalu.

"Dulu, waktu sekolah," kata Senja perlahan,"aku selalu penasaran gimana

rasanya melihat benda-benda tua secara langsung. Ternyata rasanya se-magis

ini, ya?"

"Iya," balasku pelan, tapi mataku tidak menatap foto di dinding itu. Mataku

menatap pantulan wajah Senja di kaca bingkai, wajah yang kini tampak begitu

hangat dan hidup. "Magis banget."

Senja terkekeh pelan, menyadari arah pandanganku. Rona merah tipis muncul

di pipinya, sama persis seperti Senja yang kukenal di sudut perpustakaan

sekolah belasan tahun lalu.


Kami menghabiskan sore itu menyusuri tiap sudut museum. Dari lorong jam-

jam tua yang masih berdetak konstan, piringan hitam yang memutar nada-nada


legendaris, hingga sudut ruangan yang dipenuhi buku-buku bersampul kulit.


Tidak ada pertanyaan canggung tentang apa yang terjadi pada kakinya, tidak

ada tatapan kasihan. Hanya ada aku, Senja, dan waktu yang seolah berhenti

untuk memberi kami ruang bernapas.

Saat kami sampai di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang

museum, gerimis di luar perlahan reda. Menyisakan sisa-sisa air di dedaunan

dan langit sore yang berona jingga keemasan.

"Bara," panggil Senja lembut, memecah keheningan. Ia menatap ke luar jendela.

"Terima kasih, ya."

"Untuk apa?"

"Karena kamu tidak berubah," ucapnya tulus, lalu berbalik menatapku.

Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya mengembang indah. "Aku sempat

takut... takut kalau kamu melihatku yang sekarang, kamu bakal merasa asing.

Tapi caramu menatapku, caramu bicara... masih sama persis seperti dulu."

Aku berlutut di samping kursi rodanya, menyamakan tingginya dengan

pandanganku. Aku menatap matanya dalam-dalam.

"Senja," kataku dengan suara mantap, "apapun yang berubah dari duniamu,

atau caramu berjalan, itu tidak akan pernah mengubah siapa kamu di mataku."

Senja mengangguk pelan, sebutir air mata bahagianya menetes perlahan, yang

langsung kusapu lembut dengan ibu jariku.

Langit sore yang tadinya berona jingga perlahan berganti menjadi keunguan

yang teduh. Pemandangan kota mulai dipenuhi lampu-lampu jalan yang

menyala satu per satu, memantulkan sisa-sisa air gerimis di atas aspal.

"Sudah makin malam," bisik Senja pelan sambil melihat ke luar jendela

museum. Ada sedikit nada enggan di suaranya, seolah ia pun masih ingin

menahan waktu agar berjalan lebih lambat.

Aku tersenyum lembut, berdiri lalu merapikan jaketku. "Aku antar kamu

pulang, ya?"

Senja menoleh, sempat ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk dengan

senyum tipisnya. "Apa tidak merepotkan, Bara?"

"Tidak ada kata merepotkan untuk kamu, Senja. Dulu atau sekarang," balasku.


Kami melangkah keluar dari museum tua itu. Hujan telah sepenuhnya reda,

menyisakan udara sejuk khas selepas gerimis. Aku membantu Senja masuk ke

dalam taksi yang kupesan, aku membungkuk pelan di hadapan Senja,

menyusupkan satu tanganku di bawah lututnya dan satu tangan lagi menopang

punggungnya.

Dengan perlahan dan hati-hati, aku menggendong tubuhnya yang terasa ringan

masuk ke dalam taksi. Senja sempat menyandarkan tangannya di bahuku,

jarak kami yang sangat dekat hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya

yang hangat. Setelah menyandarkannya dengan nyaman di kursi penumpang,

aku melipat kursi rodanya dan memasukkannya ke bagasi belakang.

Di sepanjang perjalanan menuju rumahnya, kami kembali mengobrol santai,

berbagi cerita-cerita kecil tentang masa lalu yang sempat tertinggal.

Taksi akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berpagar putih dengan taman

kecil yang terawat rapi di halamannya. Terasa hangat dan tenang, persis seperti

pemiliknya.

Aku turun terlebih dahulu, mengeluarkan kursi roda dari bagasi, lalu

membantu Senja berpindah dengan perlahan. Aku mendorong kursi rodanya

hingga kami sampai di depan teras rumahnya.

"Terima kasih banyak ya untuk hari ini, Bara," ucap Senja tulus saat kami

sampai di depan pintu rumahnya. Ia menatapku dengan binar mata yang selalu

berhasil menenangkan hatiku. "Hari ini... rasanya senang sekali."

"Aku yang harusnya berterima kasih, Senja," jawabku sambil tersenyum. "Sore

ini menjadi jauh lebih hangat dari yang kubayangkan."

Aku mengambil napas panjang, menahan sedikit gugup yang mendadak muncul

di dadaku, rasa gugup yang sama persis seperti saat aku ingin menyapanya di

sudut perpustakaan belasan tahun lalu.

Aku merogoh saku celana, mengeluarkan ponselku.

"Oh iya, Senja..." tanyaku dengan nada mengoda ringan, "nomor teleponmu...

apa masih sama seperti nomor yang ada di grup WhatsApp kelas kita dulu?

Yang ujungnya 3292 itu?"

Senja sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa pelan. Suara tawanya

terdengar amat renyah di tengah heningnya malam. Rona merah di pipinya

kembali muncul, sangat manis.


"Hahaha, Bara... kamu masih menyimpan nomor dari grup tua itu?" godanya

balik sambil menutup mulutnya dengan jemari.

"Jujur, nomor itu tidak pernah aku hapus," balasku sambil terkekeh pelan.

"Hanya saja... aku tidak pernah berani kirim pesan sejak dulu."

Senja menatapku, lalu menggelengkan kepala pelan dengan senyum yang belum

pudar dari wajahnya. "Masih sama, Bara. Nomornya tidak pernah berubah sama

sekali."

"Baguslah," kataku lega, menyembunyikan rasa senang di dalam dada. "Jadi

nanti malam... aku boleh kirim pesan, kan?"

"Iya boleh" bisik Senja lembut. "Aku tunggu ya."

Sambil melangkah mundur meninggalkan halaman rumahnya, aku

melambaikan tangan padanya. Senja tetap duduk anggun di kursi rodanya lalu

membalas lambaian tanganku sampai aku menghilang di belokan jalan.

Malam itu, berjalan menyusuri trotoar kota yang basah, hatiku terasa begitu

penuh. Aku merogoh ponselku, membuka obrolan baru dengan nomor yang

sudah belasan tahun tersimpan rapi tanpa pernah tersentuh, lalu mengetikkan

satu pesan sederhana

“Sudah di dalam rumah? Jangan lupa minum air hangat ya, Senja.”

Malam itu, ponselku bergetar pendek tak lama setelah aku sampai di rumah.

Sebuah balasan masuk

“Sudah, Bara. Terima kasih ya untuk hari ini. Kamu juga, langsung istirahat.”

Hanya pesan singkat, tapi mampu membuatku tersenyum sendirian seperti

remaja belasan tahun. Malam-malam berikutnya diisi oleh obrolan yang tak

pernah habis.

Hingga di suatu akhir pekan, aku memutuskan tidak ingin menunda apa pun

lagi. Aku membiarkan hatiku mengambil alih. Aku memesan tempat di sebuah

restoran paling romantis di sudut kota, tempat dengan lampu-lampu redup,

alunan musik lembut, dan akses yang nyaman untuk kursi roda Senja. Hari itu,

aku bertekad menyampaikan seluruh rasa yang tersimpan rapi selama belasan

tahun.


Sore harinya, aku tiba di seberang rumah Senja. Langit membiru tenang, dan

gerimis tipis menyisakan aroma basah yang menentramkan. Dari seberang

jalan, aku melihat pintu rumahnya terbuka. Senja berada di sana, di atas kursi

rodanya dengan gaun berwarna merah muda, tampak begitu cantik.

Aku melambaikan tangan, dan ia membalasnya dengan senyum paling manis

yang pernah ada di dunia.

Aku melangkah turun dari trotoar, bersiap menyeberangi jalan untuk

menjemputnya. Langkah demi langkah, di seberang sana, Senja masih

menatapku sambil tersenyum. Jemarinya melambai pelan, membuat dadaku

dipenuhi rasa hangat yang sulit dijelaskan. Aku membayangkan beberapa menit

lagi kami akan duduk berhadapan di restoran yang sudah kupesan. Aku akan

mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jas, menatap kedua matanya, lalu

mengucapkan kalimat yang telah berulang kali kulatih dalam hati.

"Maukah kamu menua bersamaku, Senja?"

Namun, dalam hitungan detik yang teramat singkat, suara klakson nyaring

memecah keheningan sore, disusul decitan ban yang mengiris aspal.

Aku menoleh spontan.

Sebuah mobil melaju kencang dari belokan yang tak terlihat.

Dunia seolah melambat.

Pandanganku kembali tertuju pada Senja. Mata indahnya melebar ketakutan.

Bibirnya bergerak memanggil namaku, tetapi suaranya tenggelam oleh raungan

mesin yang semakin mendekat.

"Bara...!"

Refleks, aku mengangkat satu tangan ke arahnya. Entah untuk menenangkan,

entah sekadar ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yang

kupikirkan saat itu bukan rasa takut, melainkan satu harapan sederhana,

semoga Senja tidak melihat apa yang akan terjadi setelah ini.

Benturan keras menghantam tubuhku.

Tubuhku terlempar beberapa meter. Langit sore yang tadi begitu tenang


berubah menjadi serpihan cahaya yang berputar di pelupuk mataku. Samar-

samar kulihat Senja berusaha mendorong kursi rodanya ke arahku. Wajahnya


dipenuhi air mata, sementara beberapa orang berlari menahannya agar tidak

mendekat ke tengah jalan.


Aku ingin tersenyum untuk menenangkannya. Ingin mengatakan bahwa aku

tidak apa-apa. Namun bibirku tak lagi mampu bergerak.

Kesadaranku perlahan memudar, menyisakan satu penyesalan yang terasa

begitu besar.

Aku belum sempat mengatakan bahwa aku mencintainya.

Wajah Senja menjadi hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya berubah

menjadi gelap gulita.




Bau antiseptik yang menyengat dan lorong rumah sakit yang dingin menjadi

tempat di mana hatiku patah menjadi kepingan yang tak mungkin utuh

kembali.

Di sampingku, seorang wanita dengan mata sembap berusaha memelukku erat.

Mbak Disa, kakak perempuan Bara. Aku baru pertama kali bertemu dengannya

hari ini, tetapi ia langsung memelukku seolah sudah mengenalku belasan

tahun.

"Bara selalu cerita tentang kamu, Senja," bisik Mbak Disa di antara isaknya.

"Setiap hari... tak pernah ada hari tanpa nama kamu di rumah."

Aku terus menggenggam jemari tangan Bara yang terasa semakin dingin di atas

ranjang rumah sakit. Berkali-kali aku mendekatkan telapak tanganku ke bawah

hidungnya, berharap masih bisa merasakan hembusan napas hangat Bara. Aku

bahkan menahan napasku sendiri, takut embusanku membuatku keliru.


Namun, udara yang kutunggu tak pernah lagi menyentuh kulitku. Hembusan

lembut itu makin menipis, hingga akhirnya benar-benar menghilang untuk

selamanya.

Bara pergi, meninggalkan aku di dunia yang mendadak terasa teramat dingin.

Hari pemakaman tiba dengan langit yang muram. Di atas tanah merah yang

masih basah, setelah para peziarah perlahan beranjak, Mbak Disa berlutut di

samping kursi rodaku. Ia merogoh tasnya dan menyerahkan sebuah buku

agenda bersampul kulit cokelat yang tampak sering disentuh.

"Ini buku harian Bara. Dia selalu bawa ini ke mana-mana," kata Mbak Disa

lembut sambil mengusap pundakku. "Dia bilang, ada seluruh jiwanya di dalam

sini."

Dengan jemari yang gemetar, aku membuka lembar demi lembar buku harian

itu. Dan detik itu juga, air mataku menetes tanpa bisa ditahan.

Di halaman-halaman awal, tertulis kalimat perkenalan yang begitu murni

'Namaku Bara... hangat itu bernama Senja.' Buku ini berisi seluruh kisah kami.

Cerita tentang sore di kedai kecil, tentang gerimis, tentang museum tua tempat

ia menggendongku ke dalam taksi, hingga tentang nomor telepon lama di grup

kelas yang tak pernah ia hapus.

Bara menuliskan kisah ini. Kisah yang baru saja kalian baca.

Di halaman paling akhir, tepat di bawah tulisan tentang rencananya melamarku

sore itu, ada satu lembar kosong yang ditinggalkannya.

Sore ini, gerimis kembali turun menyiram kota. Aku menuntun kursi rodaku

sendirian menuju sebuah tempat pinggir jalan di depan kedai kecil, tempat

pertama kali kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun berpisah.

Aku memangku buku harian Bara, memegang sebuah pena, dan menatap ke

arah teras yang kini kosong tanpa dirinya.

Dengan perasaan yang sesak namun penuh oleh cinta yang tak akan pernah

padam, aku menggerakkan penaku di atas lembar kosong terakhir itu,

menyambung tulisan tangan Bara dengan tulisanku sendiri...

Komentar

Postingan Populer