[Berbagi Karya]: Cerpen "SAF PALING AKHIR"

 SAF PALING AKHIR

Karya: Mahza Nurul Azizah




“Woy! Lari woy! Satpol PP!”

Suara itu pecah di antara deretan pedagang kaki lima dekat lampu merah. Dalam beberapa detik, trotoar berubah kacau. Grobak didorong tergesa-gesa, barang dagangan berjatuhan, dan orang-orang berhamburan mencari tempat berlindung. Panik, aku pun ikut berlari. Rokok yang baru saja hendak kunyalakan, kulempar asal. Koin-koin di sakuku berdenting liar setiap kali kakiku menghantam jalan. Aku berlari ngos-ngosan melewati gang sempit yang nyaris tak cukup untuk dua motor berpapasan.

“Berhenti!” Suara itu terdengar lagi dari belakang. Sial. Aku membelok cepat dan hampir menabrak seorang bocah kecil yang sedang mendorong mobil truk mainannya. Bocah itu refleks memeluk mainannya sambil memandangku ketakutan.

Tanpa kupikir panjang, aku terus berlari hingga langkahku terhenti di depan sebuah musala kecil di ujung gang. Lampunya redup kekuningan dan cat hijaunnya telah pudar. Namanya Musala Al Falah. Bukan huruf Arab, jadi aku masih bisa membacanya dengan jelas. Gini-gini, aku pernah sekolah juga saat SD. 

Di dalam terdengar suara imam melantunkan ayat Al-Qur’an. Aku menoleh panik ke belakang. Langkah Satpol PP terdnegar makin dekat. Dengan napas memburu aku melepas sandal. Mengambil peci lusuh dan bau debu di rak, lalu masuk ke saf paling belakang. 

Aku pura-pura salat. Sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Gerakanku lambat. Saat orang-orang rukuk, aku masih berdiri. Saat mereka sujud, aku baru ikut menunduk kikuk sambil mencuri pandang ke kanan kiri. 

Untung tidak ada yang memperhatikan. Dadaku masih berdebar takut ketahuan. Namun, setelah beberapa menit berdiri di sana, aku justru mulai merasa aneh. Suara imam itu tenang sekali. Tidak seperti teriakan penagih utang atau makian orang pasar terhadapku. 

Tenang, itu yang kurasakan saat itu. Aku menelan ludah pelan. Sudah berapa tahun sejak terakhir aku salat?

Lima?

Enam?

Aku bahkan lupa bacaan sujud. 

Saat rakaat terakhir dimulai, musala kecil itu justru terasa makin sunyi. Hanya ada suara kipas tua berdecit pelan dan gemerisik sarung jamaah saat bergerak mengikuti imam. Aku menunduk. Tiba-tiba wajah emak muncul di kepalaku. 

Dulu tiap Magrib emak selalu menyeretku ke musala kecil dekat kontrakan. “Salat dulu, Jay. Biar hidupnya enggak keras terus.” Dulu, aku paling malas. Sekarang emak sudah tidak ada, dan hidupku masih tetap keras.

Aku jadi tukang parkir liar. Kadang jual rokok, bantuin jaga warteg, dan kadang tidur di emper toko kalau dompetku kosong. Kalau sedang sial, aku dipukul preman yang lebih besar badannya. Kalau sedang apes, daganganku disita satpol PP. Bertahun-tahun, aku hidup seperti orang yang terus terus berlari tanapa tahu mau ke mana. 

“Allahuakbar.”

Aku tersentak, lalu ikut sujud. Keningku menyentuh sejadah yang sedikit lembap. Entah kenapa dadaku terasa sesak tiba-tiba. Aku capek. Kalimat itu muncul tiba-tiba di kepalaku. Capek lari, capek lapar, capek pura-pura bodo amat. Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokan.

Salat selesai.

Beberapa jamaah mulai berdiri dan bersalaman. Aku buru-buru menunduk, takut ada yang mengenaliku sebagai pengamen lampu merah yang sering tidur dekat pasar. Namun seorang bapak tua di sebelahku malah tersenyum kecil.

“Pertama kali ke sini, ya?”

Aku kaku sebentar lalu mengangguk pelan.

“Oh…” Hanya itu jawabnya. Tak ada tatapan tak suka, jijik, atau pertanyaan yang macam-macam. Dan, itu justru membuatku merasa aneh dan tidak nyaman.

Suara-suara tipis menghilang perlahan kala seorang ustaz muda maju ke depan membawa mikrofon kecil. Jamaah kembali duduk. Aku berniat pergi, tetapi kalimat pertama dari ustaz muda itu membuat langkahku tertahan.

“Terkadang,” kata ustaz itu pelan, “yang paling lelah bukan tubuh kita.”

Aku diam.

“Melainkan hati kita.”

Musala kecil itu mendadak terasa sunyi. “Kita sering mencoba lari ke mana-mana waktu hidup terasa berat. Cari uang, cari hiburan, cari pelampiasan. Tapi sering kali kita lupa pulang kepada pemilik kita. Allah.”

Aku menunduk pelan.

“Padahal Allah tidak menunggu kita jadi baik dulu untuk datang.”

Kalimat itu menghantamku. Aku mengepalkan tangan. Orang sepertiku memang masih pantas datang ke rumah Tuhan?

Dengan hidup berantakan begini?

Dengan salat yang bahkan cuma pura-pura tadi?

Tenggorokanku terasa panas.

Aku buru-buru mengusap wajah kasar-kasar sebelum orang lain sadar mataku mulai basah.

Kultum selesai tak lama kemudian. Jamaah mulai pulang satu per satu. Aku berdiri pelan dan berniat keluar secepat mungkin setelah meletakan peci.

“Mas.”

Aku menoleh.

Bapak tua tadi memanggilku dari dekat rak sandal. Beliau menyodorkan bungkusan nasi hangat. “Belum makan, kan?”

Aku terpaku. Sudah terlalu sering telingaku dipenuhi sebutan seperti preman, pengangguran, atau sampah jalanan sampai-sampai aku lupa bagaimana rasanya diperlakukan seperti manusia biasa. Karena itu, pertanyaan sederhana tadi terasa jauh lebih menusuk daripada makian apa pun yang pernah kudengar. Sudah lama tidak ada yang menanyakan apakah aku sudah makan setelah Ibu tiada. 

“Terima kasih” suaraku nyaris serak.

Bapak itu hanya tersenyum.

“Besok mampir lagi aja.”

Aku mengangguk pelan.  


Komentar

Postingan Populer