[Berbagi Karya]: Cerita Pendek "Keberangkatan"
Keberangkatan
Suara lonceng berbunyi.
Di lantai stasiun ini kakiku berdiri. Juga pasang kaki lain yang menunggu, menanti keberangkatan atau kedatangan (seseorang). Lalu, tugasku di sini bukan untuk berangkat, atau menjemput siapapun. Aku hanya sedang....
menunggu.
Stasiun ini penuh hitam putih. Suaranya pun aneh, tapi aku sering datang ke stasiun ini. Untuk sekadar duduk atau menunggu, atau duduk sambil memikirkan sesuatu yang kutunggu. Seringkali yang kutunggu tidak datang. Maka tidak apa-apa kalau aku hanya duduk di kursi tunggu.
Terhitung tujuh puluh kali aku menunggu. Tiga puluh kali dudukku berakhir bertemu, sisanya hanya menunggu. Tidak tahu kalau kedepannya.
Oh, berarti hari ini adalah yang ke tujuh puluh satu. Penantian tidak terencana dan juga tidak diterima logika. Tapi tubuhku selalu menerima, untuk hadir di kursi tunggu.
Pukul lima sore, aku masih di stasiun ini. Duduk dengan secangkir latte hangat. Sisa setengah gelas, memang mulai dingin. Seperti ujung-ujung jariku yang mulai membeku karena terlalu lama menunggu.
"Maaf, aku terlambat lagi."
Aku mendongakkan kepala, bosan berubah menjadi senyum. Dia datang bukan turun dari kereta, hanya dari pintu masuk yang berbeda.
"Aku rindu," ucapku.
"Maaf, aku terlambat. Mau kupesankan minuman hangat lagi?"
Dia menggenggam tanganku, hangat. Aku menggeleng, tersenyum. Lantas tangannya meraih ujung kepalaku.
"Jepit baru ya? Bunga kecil yang cantik."
Aku mengangguk. Dia duduk di sebelahku. Hanya melihatnya di sini, mengapa begitu tenang?
"Aku rindu." Iya, sebegitunya, aku juga tidak mengerti kenapa mulutku terus mengucap kata itu.
"Aku sudah di sini."
"Jangan pergi."
Dia hanya diam.
"Dengar, aku.."
Dia menatapku serius, aku ragu ingin melanjutkan.
"..aku tidak ingin terus menunggu. Jangan pergi, atau bawa aku bersamamu, ya?"
Aku menatap menuntut jawabnya.
"Kau, benar ingin mencintaiku? Untuk seterusnya?" Jawabnya dengan pertanyaan.
"Apa aku bercanda?"
Dia menghela napas dan sedikit berpaling, mungkin berpikir.
Aku benci tatapan itu.
"Aku ingin mencintaimu, sungguh. Dan aku tahu kamu ingin mencintaiku, sepenuhnya."
"Jadi bagaimana?"
"Kalau kita tunda dulu perjalanan ini, bagaimana?"
"Aku tidak ingin mendengar pertanyaan itu untuk ketiga kalinya."
Dia lagi-lagi diam.
"Aku ingin ikut bersamamu."
Dia menatapku sedalam-dalamnya.
"Baik. Kalau begitu, lusa pukul lima sore. Di peron tiga. Tapi, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak menjamin senyummu senantiasa menyertai perjalanan kali ini."
"Bukankah seharusnya begitu? Tidak selalu perjalanan hanya tentang bahagia, kan? Kata orang, senang-susah bersama. Itu cinta."
Dia hanya tersenyum, manis. Senyum manis hanya membawa kata-kata yang manis bukan?
"Iya, pada awal keberangkatan selalu banyak yang bilang begitu."
Dan perlahan senyumnya meluruh, aku bingung.
"Aku hanya tidak ingin kamu terluka." Ujarnya dengan penuh hati-hati.
"Aku juga."
"Cantik, aku mencintaimu, sepanjang perjalanan yang akan terjawab, sampai tujuan."
"Aku juga." Aku sudah malas bersilat kata.
Aku melihat hitam dan menatap putih. Lonceng terus berbunyi seiring datangnya kereta di stasiun ini. Angin yang mengenalku, berhembus. Angin yang sama, menarik ujung-ujung rambutnya, melewati sela hitamnya. Tak lama, ia bangkit. Tak banyak mengucapkan kata selain pamit.
Getar tanah kereta melau, seiring langkahnya membaur dengan jarak yang mengganggu.
Kulepaskan melati putih di kepalaku. Lusa biar kucari yang lebih baik.
Kekosongan kembali mengisi tubuhku, aku benci. Dan aku memutuskan untuk pulang.
Suara lonceng kembali berbunyi.
Komentar
Posting Komentar