[Berbagi Karya]: Cerita Pendek "Cahaya Lentera Emas"
Cahaya Lentera Emas
Di sebuah pertengahan kota yang cukup ramai, hiduplah seorang anak muda bernama Naura Jasmine yang kerap disapa Jasmine oleh orang disekitarnya. Tinggal bersama ibunya yang memiliki keterbatasan fisik di tempat rumah berlapis kayu milik mereka yang sudah cukup lama untuk ditempati sedari Jasmine dilahirkan. Ayahnya yang seharusnya menjadi kepala keluarga telah berpulang kepada sisi tuhan yang maha kuasa saat usianya menginjak sepuluh tahun, maka daripada itu tugas ibu yang menggantikan peran sang ayah dalam keluarganya. Untuk mengurangi beban yang dimiliki ibunya mencari nafkah sebagai penjual ikan asin di pasar, ia kadang membagi waktu belajarnya dengan membantu sang ibu setelah pulang sekolah. Jasmine juga cukup mengerti dengan kondisi keluarganya yang tidak berkecukupan serta memiliki kekurangan. Namun, bukan berarti kekurangan itu yang menjadi penghalang bagi cita cita yang dimiliki, karena yang senasib dengan Jasmine bukan hanya satu atau dua orang saja. Banyak jika dilihat nasib yang kurang baik dari dirinya di belakang sana.
Menurutnya, kelemahan atau kekurangan yang setiap orang miliki bukan salah satu hal yang menjadi alasan setiap orang untuk mundur dan berhenti. Selalu dihadapkan oleh kegagalan yang berada di depan matanya menjadi rintangan dan tantangan baginya untuk meraih pencapaian yang tinggi, karena sejatinya perjalanan yang panjang memiliki pengorbanan yang harus dilalui. Beberapa hal yang tidak berjalan seperti harapan itu bukan sebuah kesialan. Keterbatasan bukan pula kekurangan. Selalu tersimpan hal baik di setiap takdir.
Suatu hari, dirinya memperoleh sebuah informasi mengenai beasiswa di sekolahnya. Siswa yang memperoleh nantinya akan mendapatkan beasiswa kuliah hingga lulus kedokteran. Sadar dengan kesempatan yang ada tidak banyak diperoleh, karena yang inginkan beasiswa itu bukan hanya Jasmine seorang. Kala sedari waktu yang ia punya hanya tiga minggu, Jasmine sontak rasakan kepalanya berdenyut pelan. Helaan nafas lagi-lagi keluar dari bibirnya. Pulang sekolah, ia harus membantu ibunya berjualan di pasar. Meskipun seringkali sang ibu meminta Jasmine agar tetap saja fokus kepada pendidikannya. Namun ia tidak tega membiarkan ibunya berjualan seorang diri, agar tidak disalahkan oleh orang lain dari yang tidak mengerti akan keterbatasan fisiknya. Baru pukul 9 malam biasanya Jasmine bersama ibu pulang ke rumah. Akankah ia menjadi salah satu seseorang yang beruntung memperoleh beasiswa tersebut ataukah dirinya menjadi salah satu siswa yang akan kecewa dengan hasil akhir. Tapi beasiswa ini harus Jasmine dapatkan bagaimana pun caranya. Dirinya tidak ingin kehilangan kesempatan nantinya. Jika Jasmine beruntung, ia bisa mengurangi beban biaya pendidikan yang diemban oleh ibunya tersebut. Maka dari itu setiap pulang sekolah Jasmine menyempatkan diri sebentar untuk berkunjung ke perpustakaan dan meminjam beberapa buku untuk dibawa pulang. Petugas perpustakaan yang sudah sangat mengenal pun mengijinkannya dengan harapan Jasmine dapat bertanggung jawab menyimpan serta mengembalikannya nanti setelah usai. Setiap paginya, disaat ayam belum berkokok dan para manusia yang masih tidur terlelap dibalik selimut yang hangat. Jasmine berkutat dengan pulpen serta buku miliknya. Ia membaca buku untuk dipahami, menulis catatan yang penting untuk diingat, serta mengerjakan soal untuk diujikan kepada dirinya sejauh mana ia telah belajar.
Namun, perjalanannya tidak mudah. Beberapa waktu yang lalu, rasanya ingin sekali Jasmine menyerah. Hatinya dongkol setengah mati. Saat pulang sekolah, ia melihat rumah dengan keadaan
gelap gulita. Awalnya sang ibu tidak mau mengaku, sampai akhirnya ia temukan secarik kertas tunggakan listrik beberapa hari ini disembunyikan oleh ibunya. Sedangkan dua hari kebelakang ibunya sama sekali tidak bisa berjualan karena tidak memiliki cukup modal.
Katanya, ibunya tidak ingin membuat Jasmine sedih dan terbebani. Tanpa tau Jasmine jauh lebih sedih kalau sudah begini. Ia jauh lebih sedih, karena dari dulu sampai sekarang, ibunya terus menganggap bahwa ia beban untuk Jasmine. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ibunya beranggapan demikian? Tidak tahukah ibunya bahwa ia alasan Jasmine ingin melangkah maju untuk membuat hidup mereka lebih baik.
"Ibu tenang, Jasmine tidak takut kegelapan yang penting ada ibu disisi Jasmine." ucapnya dengan bahasa isyarat yang biasa mereka gunakan sebagai interaksi. Sudut-sudut bibirnya tetap bisa tertarik seulas senyuman manis yang masih terlihat meskipun gelap gulita dan ditangkap oleh mata ibunya.
Jasmine tidak mempersalahkan keadaan rumahnya yang gelap gulita dibandingkan rumah-rumah yang berada disekitarnya. Biarpun keadaan rumahnya gelap gulita, tapi dirinya yang menjadi penerang bagi sang ibu. Setelahnya ia pun segera mencari keberadaan lilin di rumahnya yang masih tersisa. Namun apa yang ia peroleh adalah sebuah lentera bekas peninggalan ayahnya dulu yang berkerja di ladang milik orang. Mau bagaimana lagi Jasmine menggunakan lentera tersebut, hanya satu satunya yang ia dapatkan untuk saat ini sebagai penerang sesungguhnya.
Dan sekarang dirinya berada diantara orang-orang yang berlalu lalang menggunakan kendaraannya. Sedangkan dia memegang sebuah kertas berita yang akan dijual dengan harga 2000 untuk satu koran. Sebelumnya Jasmine sudah meminta izin kepada ibunya, meskipun pada awalnya hal tersebut sempat mendapat penolakan dari sang ibu. Namun dengan bujukan dan kesepakatan Jasmine bisa tetap belajar, ibunya pun mengizinkannya dan tidak ingin melarang niat baik sang anak. Jasmine menawarkan kepada pengendara beroda dua, empat, hingga ke perjalan kaki dengan harap membeli koran yang ditawarkannya. Hingga hari menjelang siang, sudah cukup banyak koran yang ia jualkan. Jasmine pun beristirahat sebentar di sebuah warkop pinggir jalan, untuk mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah dengan keringat di dahinya menjadi bukti hari cukup panas.
Namun tak ingin menyiakan waktunya hanya untuk istirahat sejenak, Jasmine juga sempat mencuri waktu untuk membaca buku pelajaran. Agar nantinya saat dia kembali belajar sudah memahami beberapa materi. Langit biru berganti dengan warna jingga menandakan hari sudah sore Jasmine setelah menyelesaikan berjualan korannya, ia segera kembali ke rumah. Sampai di rumahnya selesai membersihkan tubuh ia lanjutkan aktifitas berikutnya dengan membuka buku dan memulai belajarnya kembali. Jasmine tidak merasa lelah, malahan apa yang dia rasakan saat ini merupakan bagian dalam langkahnya untuk kedepan.
Jasmine pandangi jendela disampingnya, sejenak ia berfikir bagaimana jika dirinya tak cukup mampu untuk mendapatkan apa yang diinginkan? Meski berulang kali ia tanamkan pada dirinya sendiri perjuangan seseorang bukan hal yang sia sia. Namun, sekali lagi itu hanya sebuah fikiran pesimis yang berada pada dirinya. Menghadapi dengan teguh berpegang pada semangat harapan yang ada adalah langkah yang diambil. Dirinya harus berambisi bukan terobsesi.
Berhari-hari ia lalu kehidupannya seperti biasa ditambah dirinya yang berjualan koran dan ibunya yang sudah kembali berdagang. Tidak terasa dirinya telah melalui berbagai perjalanan selama tiga
minggu ini. Banyak sebenarnya hari sebelumnya ia lalui dengan hal hal berat. Tapi dirinya tak pernah menyerah dan mengeluh. Sekarang dirinya jauh lebih berat dengan dihadapan beribu ribu siswa yang sama memiliki keinginan seperti dirinya mendapat beasiswa. Dengan semangat, doa sang ibu, serta persiapan matang dalam mempersiapkan tes ini, dirinya mulai mengerjakan soal demi soal dengan teliti. Tidak ada satu pun yang tertinggal dari pandangannya, jika dirinya mengalami kesulitan yang ia lakukan cukup melewati dan melanjutkan soal ditahap berikutnya agar tidak memakan waktu yang lama untuk menghabiskan soal waktu yang lain. Satu jam dirinya habiskan untuk mengerjakan soal tersebut. Setelah dirinya selesai ia kembali mengoreksi dan meneliti setiap soal ulang agar saat nanti dirinya mengumpulkan tidak meninggalkan satu jawaban sekalipun. Setelah waktunya selesai seluruh peserta mengumpulkan jawab di depan dengan beratur. Jasmine selalu merapatkan doa agar nantinya dia mendapatkan hasil yang memuaskan.
Tiga hari tak terasa baginya, setelah tes yang ia jalankan saat kemarin telah usai dirinya kembali ke perpustakaan dan mengembalikan semua buku yang di pinjam. Petugas perpustakaan yang melihatnya memberikan semangat dan keyakinan pada dirinya, karena ia yakin sekeras apa yang anak gadis itu lakukan. Namun saat dirinya mengembalikan tumpukkan buku-buku tersebut dirinya mendapatkan pengumuman bahwasanya hasil telah diumumkan di papan informasi sekolah. Dengan segera Jasmine meletakkan buku tersebut dengan hati hati. Setelahnya ia berpamitan ke petugas perpustakaan dan segera menuju ke sumber yang ia inginkan, sesampainya di sana dirinya dapat melihat banyak siswa yang berkerumunan menutupi papan informasi tersebut guna mencari nama mereka yang tertera didalamnya. Jasmine dengan hal yang sama dirinya juga ingin segera namanya, namun ia tak memilih untuk menerjang dan menerobos lebih baik dirinya menanti dan melihatnya saat dirinya dapat didepan sana. Banyak sekali siswa maupun siswi yang menyerukan suaranya. Ada yang merasakan kebahagiaannya dan ada pula siswa yang merasakan kesedihannya. Dan setelah satu persatu siswa tersebut mundur giliran bagi dirinya melihat papan informasi tersebut. Jujur apa yang dirasakannya saat ini jauh lebih membuat jantungnya berdegup kencang, ia ingin segera melihatnya. Namun, ia juga takut untuk mendapatkan apa yang tidak sesuai dengan harapannya. Tapi tiba saatnya berada didepan sana, dirinya meneteskan air mata. Ia merasakan perasaan yang terharu, dirinya berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Malah namanya yang berada di peringkat pertama dalam tes tersebut.
Sontak saat pulang sekolah dirinya langsung memeluk tubuh sang ibu dengan erat, menyalurkan rasa bahagianya dan syukur atas apa yang ia dapatkan hari ini. Semua tak luput dari doa serta kerja keras beliau pada dirinya. Ibunya pun yang tau, mengelus kepala anaknya. Ia berharap kedepannya Jasmine akan terus melangkah lebih tinggi seperti bintang yang berada di langit. Dan terang seperti cahaya lentera disaat kegelapan yang mengelilinginya.
Namun, sejatinya perjalanan Jasmine belum juga usai. Masih ada hari, minggu, bulan bahkan tahun tahun kedepannya yang akan ia lalui dengan lebih berat lagi. Tapi semua itu tak menjadi kekhawatiran yang dirinya takutkan, ia yakin kehidupan yang keras akan mendapatkan hal yang pantas nantinya.
Komentar
Posting Komentar