[Pengkajian]: Membangun Kesadaran Literasi di Bulan Bahasa: Rendahnya Kemampuan Literasi Siswa Indonesia

Latar Belakang

Literasi merupakan kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi melalui proses membaca dan menulis. Secara etimologis, istilah literasi berasal dari bahasa Latin literatus yang berarti orang yang belajar. Dalam perkembangan zaman, pengertian literasi telah mengalami perluasan makna. Jika dahulu literasi hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, kini istilah tersebut mencakup berbagai bentuk kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam konteks sosial, budaya, dan teknologi. Literasi modern melahirkan berbagai cabang seperti literasi media, literasi digital, literasi sains, dan literasi informasi, yang semuanya berperan penting dalam kehidupan masyarakat masa kini. Hakikat literasi tidak hanya sebatas kemampuan teknis, melainkan juga mencakup keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. 

Literasi menuntut seseorang untuk mampu memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, serta mentransformasi teks menjadi pengetahuan yang bermakna. Untuk mencapai kemampuan tersebut, diperlukan penguasaan empat keterampilan berbahasa secara simultan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis, karena keempatnya saling berkaitan dalam membentuk kemampuan literasi yang utuh (Halim, 2017). Literasi yang baik mampu menjadikan seseorang berpikir logis, berkomunikasi efektif, serta mengembangkan ide dan gagasan yang bermanfaat bagi kehidupan. Namun, kondisi literasi di Indonesia masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA), kemampuan literasi siswa Indonesia, baik dalam membaca, matematika, maupun sains, masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain, minat baca siswa Indonesia masih relatif rendah pada tahun 2025 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hanya sekitar 44,56 persen siswa yang memanfaatkan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat (TBM) pada tahun 2024 hal ini menunjukkan tantangan dalam menumbuhkan budaya baca di kalangan pelajar.

Rendahnya tingkat literasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kurangnya minat membaca, terbatasnya akses terhadap bahan bacaan yang menarik, serta minimnya dukungan lingkungan belajar di sekolah maupun di rumah. Akibatnya, siswa belum terbiasa menjadikan kegiatan membaca dan menulis sebagai bagian dari gaya hidup dan kebutuhan belajar, dalam konteks tersebut, Bulan Bahasa yang diperingati setiap bulan Oktober menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar. Bulan Bahasa tidak hanya memperingati peran bahasa sebagai alat komunikasi dan identitas bangsa, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat membaca, menulis, dan berpikir kritis, melalui berbagai kegiatan literasi yang dilaksanakan pada Bulan Bahasa, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa literasi merupakan fondasi utama dalam membentuk sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing tinggi. Oleh karena itu, kajian ini dilakukan untuk menelaah pentingnya literasi sebagai upaya membentuk generasi pembelajar sepanjang hayat serta mengkaji strategi penguatan literasi melalui peringatan Bulan Bahasa. Dengan meningkatnya kesadaran literasi di kalangan pelajar, diharapkan tercipta generasi muda Indonesia yang tidak hanya mampu membaca dan menulis, tetapi juga berpikir kritis, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.

Faktor yang Menyebabkan Rendahnya Literasi Siswa

1.     Kurangnya Pertimbangan Literasi dalam Kurikulum Sekolah\

Rendahnya perhatian terhadap literasi di sekolah dasar disebabkan oleh minimnya integrasi kegiatan membaca dan menulis dalam kurikulum. Sekolah lebih fokus pada pelajaran seperti matematika dan sains, sementara waktu untuk literasi terbatas. Selain itu, Kurikulum Merdeka belum mempertimbangkan peran orang tua, terutama di daerah pedesaan, serta kebijakan tidak tinggal kelas membuat anak yang belum lancar membaca tetap naik tingkat tanpa pendampingan literasi memadai (Ahmad Syarif, 2020).

2.     Kurangnya Dukungan dari Lingkungan Rumah

Banyak orang tua belum memahami pentingnya membaca dan menulis bagi anak. Rendahnya ketersediaan bahan bacaan di rumah serta kebiasaan orang tua yang lebih sering membiarkan anak menonton TV atau bermain ponsel turut menurunkan minat baca. Padahal, lingkungan keluarga seharusnya menjadi tempat pertama anak menumbuhkan budaya literasi (Prasrihamni, 2022).

3.     Kurangnya Teladan atau Model Literasi

Siswa membutuhkan contoh nyata untuk menumbuhkan minat baca dan tulis. Namun, masih banyak guru dan orang tua yang tidak menunjukkan kebiasaan membaca atau menulis, sehingga siswa menganggap kegiatan literasi tidak penting (Prasrihamni, 2022).

4.     Keterbatasan Bahan Bacaan yang Menarik dan Fasilitas Sekolah

Buku teks yang monoton serta minimnya variasi bacaan menyebabkan siswa cepat bosan. Kekurangan sarana dan prasarana, seperti ruang baca dan media pembelajaran yang menarik, juga berdampak negatif terhadap kemampuan literasi siswa (Hijjayati et al., 2022).

5.     Penggunaan Teknologi yang Berlebihan

Gadget dan media digital seringkali mengalihkan perhatian siswa dari kegiatan membaca. Anak lebih tertarik bermain game atau menonton video dibandingkan membaca buku. Perkembangan teknologi tanpa pengawasan membuat minat baca masyarakat, khususnya anak-anak, semakin menurun (Idhamani, 2020).

6.     Faktor Lingkungan Sosial dan Ekonomi

Kondisi keluarga, pola asuh, serta latar belakang sosial ekonomi turut memengaruhi kemampuan literasi. Orang tua yang sibuk bekerja cenderung kurang memberikan dukungan belajar di rumah, sementara pergaulan dan penggunaan media yang tidak terkontrol dapat memperburuk kebiasaan membaca anak (Hidayati, 2024).

7.     Kompetensi Guru

Guru berperan penting dalam membangun budaya literasi di sekolah. Metode pembelajaran yang monoton dan kurang inovatif menurunkan minat belajar siswa. Guru perlu meningkatkan kompetensi, memanfaatkan media berbasis teknologi, serta menjalin kerja sama dengan orang tua agar kegiatan literasi berjalan efektif dan menyenangkan (Rahani, 2020).

Dampak Kurangnya Literasi Siswa

Kurangnya minat membaca dapat benar-benar merugikan masyarakat dalam beberapa hal. Menurut Prasrihamni (2022) mengemukakan beberapa masalah utama sebagai berikut:

Pertama, minat membaca sering kali menimbulkan masalah dalam memahami, menguasai, dan menggunakan pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan produk yang berkualitas. Ketika siswa tidak banyak membaca, mereka kesulitan memahami makna kata-kata, sehingga sulit bagi mereka untuk memproses informasi secara efektif dan dapat mengganggu kemampuan berbicara.

Kedua, kurangnya minat membaca menyebabkan terbatasnya perspektif dan pola pikir negatif, sehingga individu lebih rentan terhadap berbagai doktrin dan gagasan negatif. Hal ini dapat mengakibatkan pengaruh negatif yang membuat seseorang sulit untuk membedakan informasi mana yang layak diterima.

Ketiga, ketika orang tidak cukup membaca, kreativitas mereka pun menurun. Siswa yang tidak banyak membaca merasa sulit untuk berkreasi karena mereka cenderung tidak mencari informasi dan pengetahuan baru.

Keempat, kurangnya minat baca berarti kehilangan informasi terkini, yang membuat seseorang sulit untuk meningkatkan diri. Kedua, tidak mau belajar dan berkembang dengan pengetahuan baru dapat menyebabkan rasa acuh tak acuh, Sikap ini dapat menyebabkan seseorang mengisolasi diri, tersesat dalam dunianya sendiri, dan mengabaikan lingkungan sekitarnya.

Kelima, seseorang dengan perspektif yang sempit mungkin mengalami kesulitan bersosialisasi karena mereka tidak dapat berkomunikasi secara efektif, basis pengetahuan mereka tidak sesuai dengan dunia di sekitar mereka. Terakhir, masalah yang lebih besar yaitu anak muda tidak mau membaca dapat mengakibatkan kerugian bagi negara, karena kehilangan kontribusi berharga dari generasi yang dapat membantu mendorong kemajuan dan kualitas masyarakat.

Minat baca siswa Indonesia masih relatif rendah pada tahun 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hanya sekitar 44,56 persen siswa yang memanfaatkan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat (TBM) pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan tantangan dalam menumbuhkan budaya baca di kalangan pelajar.

Beberapa faktor utama penyebab rendahnya minat baca adalah kurangnya waktu, minimnya motivasi pribadi, dan tergantikannya buku oleh konten digital seperti video, media sosial, serta informasi cepat dari internet. Selain itu, ada data yang menunjukkan bahwa banyak siswa masih kebingungan dalam memahami isi teks bacaan dan belum mampu merangkum informasi dengan benar. Sebagian besar dari mereka hanya menyalin kembali teks tanpa menyesuaikan dengan ide pokok dan inti pembahasan. Kondisi ini menggambarkan rendahnya keterampilan berpikir kritis dan pemahaman bacaan di kalangan siswa.

Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2021) menyatakan Indonesia tengah berada dalam kondisi “darurat literasi”. Fenomena ini diperparah dengan menurunnya kebiasaan membaca akibat penggunaan gadget yang berlebihan di kalangan anak-anak. Banyak orang tua menjadikan gawai sebagai hiburan bagi anaknya, sehingga kebiasaan membaca tidak terbentuk sejak dini. Hal ini diperkuat oleh pendapat Kartikasari (2022) yang menyebut bahwa “kebiasaan membaca harus ditanamkan sejak dini, bukan dengan gadget.”

Selain faktor kebiasaan, keterbatasan fasilitas sekolah juga menjadi penghambat utama peningkatan literasi. Fasilitas perpustakaan yang kurang memadai dan minimnya bahan ajar berkualitas menjadi kendala signifikan dalam menumbuhkan minat baca siswa. Literasi masyarakat Indonesia secara umum masih rendah dan tidak mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir (Kusmiarti & Hamzah, 2019). Padahal, literasi memiliki peran penting dalam membangun daya saing bangsa, memperkuat kemampuan berpikir logis, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi yang pesat. Dengan demikian, berbagai data menunjukkan bahwa minimnya literasi siswa di Indonesia bukan hanya disebabkan oleh rendahnya minat baca, tetapi juga karena kurangnya pembiasaan membaca di sekolah, keterbatasan fasilitas, lemahnya peran keluarga, dan dominasi penggunaan teknologi digital tanpa pendampingan edukatif.

Langkah-langkah Strategis Untuk Menumbuhkan Kesadaran Literasi di Kalangan Siswa

Membangun budaya literasi di lembaga pendidikan memerlukan upaya yang terencana dan berkelanjutan. Menurut Beers (2009), strategi utama mencakup: menciptakan lingkungan fisik yang ramah literasi, membangun suasana sosial yang mendukung komunikasi literat, serta menjadikan lingkungan akademik sebagai ruang tumbuhnya kegiatan literasi. Selain itu, kesadaran masyarakat juga menjadi kunci dengan membiasakan diri membaca buku, majalah, atau sumber informasi lain serta menulis catatan atau karya sederhana. Pemerintah memiliki peran penting dalam memperkuat budaya literasi, seperti memperbanyak taman bacaan, memperkuat dunia perbukuan, menyalurkan subsidi buku, dan menyediakan akses bacaan murah dan mudah dijangkau. Perpustakaan Nasional RI turut berperan melalui pengembangan potensi sumber daya manusia, teknologi informasi, serta kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas akses literasi masyarakat. Menurut Alpiyanto (2011), terdapat beberapa langkah praktis dalam menumbuhkan budaya literasi, yaitu:

1.   Memotivasi minat baca melalui kontrak belajar dan komitmen pribadi agar siswa termotivasi secara mandiri.

2. Melaksanakan gerakan membaca berdasarkan minat dan kemampuan siswa, dengan memanfaatkan berbagai sumber bacaan.

3.  Memberdayakan sudut baca sebagai perpustakaan mini di ruang kelas untuk meningkatkan akses terhadap bahan bacaan.

4.   Mendorong kegiatan menulis, seperti membuat catatan pengalaman atau ulasan buku sebagai bentuk refleksi dari kegiatan membaca.

5.   Membentuk komunitas literasi teman sebaya agar siswa saling berbagi pengalaman, memberi motivasi, dan mempertahankan kebiasaan membaca di luar lingkungan sekolah.

Strategi Penguatan Literasi lainnya dapat melalui Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diwajibkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa di tingkat dasar. Misalnya, kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai menjadi praktik yang banyak diterapkan dan memberikan kontribusi positif meningkatkan minat baca siswa.

Penguatan literasi juga dilakukan melalui penyediaan fasilitas pojok baca di sekolah sebagai ruang literasi mini, yang dapat meningkatkan akses siswa terhadap bahan bacaan serta mendorong kebiasaan membaca dan menulis. Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diwajibkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa di tingkat dasar. Misalnya, kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai menjadi praktik yang banyak diterapkan dan memberikan kontribusi positif meningkatkan minat baca siswa. Penguatan literasi juga dilakukan melalui penyediaan fasilitas pojok baca di sekolah sebagai ruang literasi mini, yang dapat meningkatkan akses siswa terhadap bahan bacaan serta mendorong kebiasaan membaca dan menulis. Melalui strategi tersebut, budaya literasi dapat tumbuh tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di masyarakat luas sebagai bagian dari gaya hidup belajar sepanjang hayat.

Simpulan

Literasi merupakan fondasi utama dalam pembentukan sumber daya manusia yang cerdas, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Namun, kondisi literasi siswa Indonesia masih tergolong rendah akibat berbagai faktor, seperti kurangnya perhatian terhadap literasi dalam kurikulum, minimnya dukungan lingkungan rumah, keterbatasan bahan bacaan, rendahnya keteladanan dari guru dan orang tua, hingga pengaruh negatif penggunaan teknologi digital. Rendahnya kemampuan literasi ini berdampak luas terhadap perkembangan kognitif, sosial, dan moral siswa, seperti rendahnya kemampuan berpikir kritis, lemahnya daya analisis, menurunnya kreativitas, hingga berkurangnya partisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat dan kemajuan bangsa.

Oleh karena itu, momentum Bulan Bahasa menjadi sangat strategis untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya literasi. Melalui berbagai program seperti Gerakan Literasi Sekolah, penyediaan pojok baca, serta pembentukan komunitas literasi, siswa dapat diarahkan untuk menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian dari gaya hidup belajar sepanjang hayat. Upaya ini memerlukan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah agar tercipta ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Seiring meningkatnya kesadaran dan budaya literasi di kalangan pelajar, diharapkan lahir generasi muda Indonesia yang tidak hanya mampu membaca dan menulis, tetapi juga berpikir kritis, berkarakter kuat, dan siap bersaing di era global. Literasi bukan sekadar kemampuan akademik, melainkan kunci utama dalam membangun peradaban bangsa yang berpengetahuan dan berkemajuan.

 

Referensi:

https://sevima.com/pengertian-literasi-menurut-para-ahli-tujuan-manfaat-jenis-dan-prinsip/ 

https://pdfs.semanticscholar.org/b1a2/cdff0fcfa231b25acf5c685ce162f7488ebd.pdf 

https://ijurnal.com/1/index.php/jkp/article/view/387/353 

https://media.neliti.com/media/publications/556585-upaya-menumbuhkan-budaya-literasi-di-kal-71278b24.pdf 

https://rumahpusbin.kemendikdasmen.go.id/berita_detail.php?id=167

https://malang.disway.id/read/6447/fakta-minat-baca-siswa-indonesia-2025-masih-rendah-ini-tantangannya 

https://share.google/3rgfaZuDeqtgat25k 

https://malang.disway.id/read/6447/fakta-minat-baca-siswa-indonesia-2025-masih-rendah-ini-tantangannya 

https://share.google/3rgfaZuDeqtgat25k 

https://ejournal.utp.ac.id/index.php/JPF/article/view/4092  


Komentar

Postingan Populer